template by story art


Akhirnya tiba di penghujung tahun, 366/366. Sudah tiga ratus tiga puluh enam hari kita lalui. Tahun yang cukup banyak memberi kejutan dan perubahan besar-besaran dalam setiap tatanan kehidupan. Semua seakan dipaksa untuk segera adaptasi dengan tataran hidup baru, "New Normal".

Tahun yang cukup sulit, tapi akhirnya kita lulus juga menjalaninya. Tahun yang paling banyak membuat diri mbatin, "ya sudahlah, mau gimana lagi."  

Yeay, akhirnya besok udah ganti kalender baru, semoga menjadi semangat baru. Namun, akan lebih baik kiranya sebelum pergantian tahun, kita kembali memutar memori setahun ke belakang, merefleksikan perjalanan setahun ini udah ngapain sih?, udah terjadi apa sih?. 

Tulisann ini dibuat sebagai pengingat kepada diri, untuk terus mengingat kalau diri ini pernah sejauh ini dalam berjuang, jadi menyerah bukanlah suatu pilihan ke depannya.



Januari 2020 --

Awal yang indah di tahun kabisah ini. Tahun dimana jumlah hari dalam bulan Februari sebanyak 29 hari. Aku kembali melanjutkan mimpiku. Mencoba merantau ke Ibu Kota, melanjutkan jenjang pendidikan profesi.

Walau hati lagi patah karena dipatahkan oleh seseorang yang mencoba menawarkan kebahagiaan di penghujung tahun 2019. Ah, mimpiku tidak patah. Mimpiku naik setingkat lebih atas untuk berproses.

Di bulan ini juga aku mencoba menuliskan pengalaman pribadiku dalam menghadapi ujian tes masuk diklat profesi di Universitas Indonesia. Wah, responnya cukup baik. Hingga penghujung tahun 2020, tulisan tersebut masih ramai oleh pembaca. 

Bahkan aku kerap tiba-tiba menerima direct message di media sosialku, entah itu instagram, twitter, atau bahkan langsung mengirim ke emial pribadiku. Entah sudah berapa kali aku membagikan materi yang aku kumpulkan sendiri kala menghadapi tes batch V.

Aku merasa senang. Karena tulisan yang aku bagikan di blog banyak membantu orang lain. Materi-materi dan soal-soal yang aku kumpulkan juga bisa bermanfaat untuk orang lain. Ah, tipe caregiver akan merasa senang jika telah membantu orang lain, haha.


Februari 2020 --

Bulan tersialku di tahun 2020. Sudah jauh dari keluarga di kota metropolitan, tapi kena musibah. Bener-bener merasa sendiri di sudut keramaian kota Jakarta. 

Aku merasa bersalah dalam banyak hal rasanya, andaikan aku... andaikan aku, tapi kan udah kejadian, mau gimana lagi selain hadapi yang terjadi. Kamu perbuat ya kamu juga harus berani untuk bertanggung jawab. 

Semua kesedihan menguar rasanya, masih jadi beban keluarga karena masih melanjutkan kuliah. Patah hati karena diselingkuhi, luka atas kepergian adek yang belum juga sembuh. Argh, semua kesedihan berkumpul bersorak-sorai menertawaiku.

Lalu, aku dikenalkan dengan lagu Mas Kun di album Mantra-mantra. Mendengarkan lagu itu semacam obat untuk jiwaku yang lagi patah sepatahnya.

"tak apa, kamu masih sosok yang sama. Kamu pasti kuat seperti di masalalu. Sekarang, istirahat sebentar gapapa. Kamu juga berhak rehat, jiwamu butuh istirahat."


Maret 2020 --

Dapat ultimatum dari kampus kalau harus segera kembali ke kampung halaman. Wah, Covid-19 sepertinya sudah menunjukkan eksistensinya di negeri ini. Okelah, tanggal 16 balik ke Malang.

Di bulan ini juga tepat setahun kepergian adek. Di bulan ini juga aku benar-benar paham, blood means nothing sometimes. Darah hanya darah. Orang lain bisa rasa saudara dan saudara bisa rasa orang lain.

Oke tak apa, semua aku simpan dengan baik. Aku tandai baik-baik. Waktu akan menjawab. Terimakasih untuk kalian atas segala luka kepada keluarga kami.


April 2020 --

Awal bulan puasa tepat  jatuh di bulan ini. Pagi-pagi hari malah dijumpai beberapa butiran garam di depan setiap pintu keluar rumah kami. Tak hanya di rumah kami, ternyata di rumah mbak ditaburi garam juga.

Yah sudahlah, anggaplah orang iseng. Tapi ya sulit rasanya untuk tidak suudzon. Tetangga sekitar juga bilang, "ya siapa lagi..". Tapi ya sudahlah, enggak ada CCTV juga di rumahku, gak ada bukti juga jika misal mau mengurus ini.



Mei 2020 --

Akhir ramadhan mbak mulai menunjukkan gejala sakitnya. Linu-linu di sekujur tubuhnya, sulit berjalan, pusing dan mual-mual. 

Humm, mau berpikir jernih akan penyakit yang diderita mbak ya cukup sulit. Momennya pas dengan penaburan garam di depan pintu rumah. Dan apesnya, mbak sudah melewatinya. Percaya tidak percaya, katanya kalau sampe dilewati bisa berujung sial.

 

Juni 2020 --

Pengobatan sudah dilakukan sana-sini. Baik secara medis atau suprantural, haish. Aku masih ingat berapa dukun yang ku datangi, berapa  kyai atau ustadz yang ku datangi. Aku juga sempat mengantarkan rukyah mbakku ke kakak dari guru SMA ku.

Aku seorang sarjana sains, dipaksa untuk mengikutinya. Tapi tetap bagiku kalau sakit ya harus ke dokter dong. 

2x tes Roentgent, 3x tes Lab, tapi tetap menghasilkan hasil yang sama. NEGATIF !!!
Mbak bebas dari penyakit apapun yang sempat dicurigai seperti lupus, rhematik, dll.

Tapi kenapa embak sampe tidak bisa bergerak sama sekali ketika sakit yang dideritanya kambuh?
Lantas embak sakit apa?



Juli 2020 --

Aku diberitahu oleh kakak tingkatku di asrama tentang penyak mental psikosomatis. Ciri-ciri yang dijelaskan tentang penyakit itu mirip dengan yang diderita oleh mbak.

Oh ada ya ternyata penyakit mental yang bisa menyerang organ tubuh tapi tidak mengindikasikan satu penyakit apapun setelah dicek baik sinar-X atau tes lab.

Ah, aku jadi merasa berdosa karena sudah sempat berburuk sangka kepada banyak oranh, haish.

Dari peristiwa yang dialami mbak aku belajar satu hal penting, menikahlah dengan orang yang kamu bisa menampilkan dirimu dalam bentuk apapun dan bisa membicarakan apapun. 

Bulan ini juga ada seseorang yang mengirim pesan di salah satu sosial mediaku, mengajak berkenalan setelah membaca tulisanku yang kiranya seperti ini, "Beri aku satu buku, maka akan aku tunjukkan keseruannya."

Hey kamu, masih ingat itu?



Agustus 2020 --

Bulan ini mulai mengikuti kuliah online. HAHAHAHA lama bener aku dianggurin dan digantung nasibnya oleh pihak kampus. Maret-April-Mei-Juni-Juli enggak ada kuliah online sama sekali. Kerjaannya ngapain? ya main sosmed lah, apalagi.

Di bulan ini seharusnya aku sudah dinyatakan lulus dari kuliah profesi FISMED. Yah, apa mau di kata. Jika justru bulan ini baru bisa masuk kuliah online. Ya sudahlah, emang udah nasibnya.

Di bulan ini juga aku akhirnya mengunjungi pulau kelahiran bapak lagi setelah kali terakhir berkunjung tahun 2017. Aku mengunjungi Umiku (kakak pertama bapakku yang seayah-seibu. Why? btw, Bapak punya saudara seayah sejumlah 17 orang, HAHAHA) yang kambuh penyakit mentalnya karena ketrigger masalah baru.

Umiku pernah mengalami penyakit mental dahulu, mungkin sudah lebih dari 40 tahun yang lalu. Kalau masalah pemicu pada masalalu sih adalah kaget mengetahui suami beliau menikah lagi tanpa sepengetahuan beliau. 

Aku juga punya tante lain dari pihak Bapak yang juga pernah mengalami penyakit mental dengan kasus yang sama, suami tetiba poligami. HUMMMMMMM

Oleh karenanya, mau gimanapun, mau gajah jadi bertelur atau membelah diri kek, Aku tidak mau dipoligami dengan alasan apapun. Karena hati hanya untuk seorang seperti prinsip eksklusi pauli, boleh diisi dengan keadaan kuantum yang sama atau tidak terisi sama sekali.



September 2020 --

Rutinitasnya masih sama, pukul 09.00-17.00 WIB atau bisa aja lebih atau bisa juga pengganti sampe jam 21.30 WIB, kuliah online. 

Namun, ada yang berbeda dengan bulan ini. Aku memilih langkah  besar yang ke depannya membuat kehidupanku beneran serasa naik roll coaster. Kadang seneng, kadang sedih atau kadang serasa pengen nimpuk atau bunuh orang.

Tapi aku dengan sadar memilih jalanku, dan justru terus merasa bersyukur atas pilihan itu. Memilih satu jalan kebahagiaan, justru banyak kebahagiaan yang aku dapatkan. Terimakasih.



Oktober 2020 --

Bulan ini adalah ujiian online pertama kali sepanjang sejarah. Lah iya, kan juga baru pertama kali kuliah online dudul, haha.

Dari total 6 modul materi yang diujikan, aku remidial di 2 modul. Aku cukup apresiasi terhadap diriku yang masih newbie banget di dunia FISMED jika dibandingkan dengan teman lain. 

Aku solo player dari kampusku. Aku merasa paling bodoh di antara yang lain, hum. Kuliah barengan dengan anak S2 UI yang lagi magang, teman-teman lain ada beberapa yang udah lulus S2 atau ada yang udah kerja di atas 10 tahun di Rumah Sakit.

Dahlah, bersyukur enggak remidial semua modul haha. 



November 2020 --

Akhir Oktober hingga awal November aku melaksanakan kuliah online lagi yaitu Diklat Petugas Proteksi Radiasi (PPR) Medik 2 (Radiodiagnostik). 

Bersyukur banget enggak perlu remidial untuk kuliah ini. Tinggal menunggu waktu untuk ujian SIB di BAPETEN sekalian pas ngambil barang-barang di Jakarta. Oh ya, aku masih tetap bayar kosan selama ini :)). 

Kalau dibuat beli pentol lak lumayan ya?. Ya mana tahu juga kalau pandemi bisa selama ini. Tau gitu, aku angkut semua barang-barang waktu bulan Maret lalu.

Bulan ini juga sahabat dekatku  menjemput bahagianya. Hey, selamat untuk kamu ya. 



Desember 2020 --

Bulan ini aku harus menerima kenyataan bahwa aku adalah mahasiswa profesi lulusan online PENUH. Lagi-lagi cuman bisa bilang, Ya sudahlah, mau gimana lagi. 

Bulan ini juga aku menerima vonis TB untuk ibuku. Oleh karenya, Ibuk harus rutin berobat hingga Agustus 2021. 

Bulan ini juga aku kembali mendaftarkan pengobatan penyakit mental ke dokter syaraf langganan yang selalu rutin aku kunjungi untuk mengambil resep Bapak (ah ya, Bapak masih sakit hingga saat ini memang). Kali ini mendaftarkan Umiku. 

Aku sempat kesal sebenarnya kepada keluarga di Madura. Kenapa gak dari awal mendengarkan nasehatku untuk segera dibawa berobat ke dokter speasiali kejiwaan. Budaya orang Madura mungkin, penyakit mental = kerasukan jin, ALLAHUMMA.

Bulan ini juga aku mencoba menguruskan dan mendampingi pengobatan Omku yang telah lama menderita batu sejak Mei 2020. Naas emang, dari dulu takut berobat ke rumah sakit karena takut dicoronakan , baik aku pusing.






Tahun 2020 mengajarkan banyak hal kepadaku. Tahun 2020 juga banyak memberikan aku kelelahan baik segi fisik ataupun mental. Namun, lagi-lagi aku dituntut untuk lebih kuat dari yang aku bisa. Aku anak Bungsu yang memikul pundak anak Sulung, harus memiliki pundak yang kokoh sebagai tempat bersandar orang-orang di sekelilingku.

Untuk diriku, terimakasih telah kuat, terimakasih telah sampai detik ini kamu tetap memutuskan untuk berjuang. 

Untuk resolusi dan target mimpi yang bergeser jauh karena pandemi,
Untuk segala hal yang hilang dan menjauh pada tahun ini,
Untuk rasa bersalah atas kepergian adek yang masih terus mencoba berdamai hingga saat ini,
Untuk semua yang telah terjadi di tahun ini, ku ucapkan terimakasih.

Tahun 2021 apakabar?
Harapannya gak muluk-muluk, semoga bisa segera sumpah profesi agar bisa segera ngurus STR lalu melamar kerja. Malu  usia udah mau seperempat abad tapi masih bergantung terus sama keluarga.




Hal apa yang paling random yang sangat aku syukuri di tahun 2020 adalah mengenalm(U).





masih dengan orang yang sama, seseorang yang kamu panggil Bhing.