template by  storyart

Kamis, 17 Desember 2020-Sore itu, adalah jadwal rutin check up ibuk ke dokter spesialis paru. Sejak bulan November Beliau mengikuti serangkaian pengobatan untuk pendiagnosaan “ada apa dengan paru-paru nya?”.

Ibuk telah lama mengeluh kepadaku kalau sejak bulan Juli awal ia sering mengalami batuk darah. Cukup intens, bisa dua hari sekali atau paling tidak seminggu minimal sekali akan ada darah dalam batuk yang Beliau keluarkan.

Aku telah bilang ke Ibu untuk menunggu setidaknya perkuliahanku agak longgar agar aku bisa mengurus segala administrasi untuk pengobatan beliau.

Yah, aku berusaha melobby Ibuk untuk bersabar terlebih dahulu. Kuliah profesi dan PPR Medik 2 cukup padat. Aku harus selalu standby mulai dari pukul 08.00-17.00 WIB setiap weekdays.

Bahkan, jika terkadang ada pengganti kuliah karena ada beberapa dosen yang berhalangan mengajar pada waktu yang telah ditentukan. Pukul 19.00-21.00 WIB aku juga harus mengikuti kuliah pengganti tersebut. Belum lagi ada tugas yang harus aku kerjakan.

 

Ya tidak mungkin aku mengusahakan pengobatan ibuk kala itu. Istirahat dan tidur cukup aja untung-untungan deh. Lagian juga pengurusan administrasinya juga hanya bisa diurus ketika weekdays.

Sekarang pun aku masih mengikuti perkuliahan klinis online. Akan tetapi waktunya agak lebih flexible. Jadinya aku masih bisa mengusahakan untuk pengobatan Ibuk.

 

Tentunya tidak semerta-merta Ibu bisa langsung berobat ke Dokter spesaialis paru di rumah sakit. Karena peraturan yang ada untuk sekarang, pasien BPJS perlu mendapat surat rujuk dari puskesmas setempat agar bisa berobat ke dokter spesialis di rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS.

Minggu ketiga pada bulan November, Aku mengantarkan Ibuk ke Puskesmas di kecamatanku  dengan harap bisa langsung mendapat surat rujukan langsung, agar bisa segera berobat ke ahlinya saja (red: dokter spesialis paru)

 

Ternyata prosedurnya tidak seperti itu. Ibuk harus mengikuti tes dahak dulu untuk mendeteksi apakah Beliau terkena TB atau tidak. 

Hasil tes Lab. dari dahak beliau pun tak langsung hari itu keluar hasilnya. Kami harus menunggu selama 2 minggu karena pengujian dahak tersebut tidak dilakukan di Puskesma melainkan dikirim ke instansi pengujian lain.

 

Hasil yang keluar adalan negatif TB. Akhirnya Ibuk bisa mendapat surak rujuk untuk berobat ke Rumah Sakit. Barulah pengobatan sesungguhnya dimulai karena sekarang Ibuk ditangani ahlinya, pikirku hehe.

Ibuk kebagian berobat setiap kamis sore – pukul 18.30 WIB. Dokter baru bisa mendiagnosa penyakit yang diderita Ibuk setelah melakukan tes dahak (lagi) dan roentgen thorax. Prosedurnya masih sama, harus menunggu hasil selama 2 minggu, baru bisa check up lagi.

Awalnya aku cukup senang karena tes dahak Ibuk hasilnya negatif TB. Tapi foto rontgen Beliau menunjukkan kalau paru-paru Beliau terinfeksi bakteri  TBC. Oke, bertamasya ke Rumah Sakit setiap2 minggu sekali akan menjadi jadwal rutinan Belaiu ke depan selama beberapa bulan.

 

hasil foto roentgen thorax Ibuk

Pengobatan TB berapa lama? 6 bulan bukan?. 

Berbeda dengan Ibuk. Beliau harus berobat rutin selama 8 bulan. Hal ini dikarenakan, dulu pengobatan TB beliau ketika aku berusia 1 tahun, belum tuntas. Hanya sempat dilakukan selama 3 bulan saja.

Oleh karenanya, kata dokter, harus ada 2 bulan pengobatan tambahan untuk menggantikan pengobatan dulu yang belum tuntas.

Sekarang Ibuk harus rutin mengkonsumsi obat setiap hari. Sebenarnya ada obat injeksi juga, namun sepertinya persediaan obat injeksi tersebut sudah habis, jadinya Ibuk belum bisa menerima obat injeksi tersebut.

 

Penyakit Ibuk telah menunjukkan gejala akan kambuh sejak Adek dirawat di ICU RS sebelum ia meninggal. Ibuk telah beberapa kali batuk darah. Dikiranya hanya batuk biasa, eh ternyata penyakit TB yang 20 tahun lebih bersamayam lagi “kambuh”.

Mungkin stress berat menjadi pemicunya. Luka atas kecelakaan Adek, sehingga membuat Ia harus segera berpulang kepada-Nya, menjadi pembangkit atas penyakit yang telah lama tidur di tubuh Ibuk.

 

Sekarang Ibuk menjadi survivor TB. Semoga, Agustus 2021 setelah pengobatan ini selesai, Ibuk bisa benar-benar sembuh dari penyakit TB ini.

Kalau tahun lalu di hari Ibuk 22 Desember 2019, aku menuliskan tulisan yang berjudul Perawat itu bernama “Ibu”. Mungkin kali ini, akulah yang harus menjadi  perawat itu.

Menjadi kebiasaan tiap pagi untuk menanyakan, “udah minum obat hari ini Buk?”. Alhamdulillah Ibuk rutin meminumnya tanpa harus aku ingatkan, hanya saja aku khawatir Ibuk kelupaan karena telah lelah mengurus rumah.

 

stok sisa obat. Kapsul merah diminum langsung 4 biji.

Ah, perawat apa dah kalau gitu? Hehe.

Yah, setidaknya aku harus tetap berada di Malang selama masa pengobatan Ibuk. Karena kalau bukan aku, mau siapa lagi. Mungkin ketika aku memutuskan bepergian ke luar kota, aku harus memastikan kalau tidak bentrok dengan jadwal check up Ibuk ke dokter.

 

Untuk Ibuk, terimakasih untuk terus bertahan, terimakasih untuk selalu pura-pura terlihat kuat dari luar atas segala hal yang telah terjadi.

Di setiap keadaan, aku akan selalu memposisikan dirimu di atas apapun. Karena segala peluh kasih, sayang, cinta dan rasa sakitmu tak akan pernah bisa aku tebus sampai kapanpun.


Selamat hari Ibuk untuk seseorang yang aku panggil “Mamak”,

Selamat menjadi nenek dari 2 cucu jagoan yang selalu membuatmu geleng-geleng karena ternyata merawat anak laki-laki sungguh berbeda dengan merawat anak perempuan. Cucu dari anak bungsumu, nanti ya? Masih loading … e nikah dulu maksudnya, haha.

 

Aku sayang Mamak hari ini hingga nanti,

Nanti ada seseorang lagi yang memanggilmu Mamak gapapa ya ? Iya, nanti aku kenalkan ke Mamak, katanya mau daftar jadi anakmu. Masih ada slot gak? , kalau hari ini habis, aku suruh balik  aja bulan depan, apasih.

Untuk  kasih yang tak pernah berujung, selamat hari Ibuk untuk para ibuk dan para calon Ibuk di seluruh muka bumi ini. 

bonus foto Aku dan Mamak waktu liburan ziarah Wali awal Desember lalu. Hidung udah on fire sejak dalam kandugan emang beda yah, haish.

Ditulis oleh aku, calon Ibuk dari anak-anakmu *eh