ketika si Adek kecil kami menginjak usia 6 tahun, kala itu..


Tulisan ini aku buat untuk mengenang sosok yang sangat aku sayangi.
Sosok yang dilahirkan dari rahim yang sama, yang pada 2003 lalu resmi aku panggil sebagai ADEK

Tulisan ini untuk mengenang perjuanganmu Dek,
Kamu telah berjuang. 
Kamu tidak menyerah atau hanya berpangku tangan,
Kamu tetap berjuang untuk sembuh.

Namun, Tuhan memiliki skenarion yang lain.
Tuhan memintamu untuk lebih dulu berpulang ke pangkuan-Nya.


Selamat 17 tahun Adek kecil embak yang akan selalu tetap menjadi Adek kecil embak,
dari embakmu, yang masih mencoba belajar mengikhlaskan kepulanganmu.


--

Cerita itu di mulai ketika, H-1 minggu sebelum aku wisuda, tepatnya 1 Maret 2019 aku pulang ke Malang dengan tujuan membelikan tiket untuk Bapak, Ibuk & Adek yang akan menemaniku dalam acara yang telah kami sekeluarga tunggu-tunggu selama 9 semester. Ah iya, acara wisuda  pertama dari pendidikan tinggi di keluargaku.

Aku membelikan tiket pulang-pergi untuk Adek, Bapak, & Ibuk. Mereka bertiga berangkat dari Malang tanggal 8 Maret, ikut kereta paling terakhir dari stasiun Kepanjen pukul 19.26.  Karena, Adek pulang sekolah pukul 15.00.

Alhasil menunggu Adek selesai sekolah. Ibuk beserta Bapak pulang dari Surabaya tanggal 9 Maret pukul 17.41 dari Gubeng, sedangkan adek pulang tanggal 10 Maret.

"Adek kecil" kami, masih ingin maen di Surabaya. Ia ingin maen ke makan Sunan Ampel & nyoba Kober mie setan. Ah iya, aku masih ingat beberapa kali ia berpesan kepadaku, 

"mbak bawakan mie kober po mbak.."

Ah dia memang senang melucu. Perjalanan Surabaya-Malang menempuh sekitar 4 jam.an menggunakan kereta. Coba pikirkan, bagaimana rasa mie tersebut setelah tiba di Malang. Hummmm.....

Oleh karenanya, ia memberanikan diri untuk pulang sendiri ke Malang. Aku tak mungkin pulang bersamanya, aku akan membawa pulang motorku ke Malang pasca wisuda. 

Sebelum berangkat ke Surabaya adek minta dibelikan baju baru untuk ia gunakan ketika maen di Surabaya. Memang Adekku terlampau unik. Yang ia minta adalah baju yang modelnya udah punah beberapa tahun lalu.

Aku telah mengitari pasar Kepanjen, Gondanglegi, namun tak satupun dari toko baju yang aku datangi menjual baju yang Adek kecil kami inginkan.

Ya sudahlah, pikirku dan ibuk hanya buat maen, kiranya tanpa perlu baju baru acara maen yang ia inginkan akan tetap terlaksana.

Namun.. 

Tanggal 6 Maret pukul 20.17 WIB, aku mendapat telpon dari pamanku yang mengatakan bahwa Adek kecelakaan dan dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Aku langsung menebak..

"Ini, pasti jauh lebih parah daripada kecelakaan yang pernah aku alami tahun 2016 silam,"


Aku menangis sesunggukan di rumah makan bakso kepala ikan. Kala itu, aku tengah makan bersama temen-temenku. Aku pikir itulah bakso paling "pahit" yang pernah aku makan.

Aku tidak bisa tidur dengan tenang. Aku selalu mengecek hape, takut ada kabar dari orang rumah. Dan, tepat pukul  2.30 pagi, aku tiba-tiba terbangun dari tidurku. Ternyata ada sms dari pamanku

"Adekmu sudah melakukan operasi kepala..sekarang masih di ICU"

Operasi yang menghantuiku 3 tahun yang lalu, ternyata tak bisa dilewati oleh Adek. Ia yang menggantikan posisiku, argh. 

Pagi itu, aku seperti orang kesetanan mendapat kabar tersebut. Aku langsung bangun mengetuk ibuk kos, meminta untuk dibukakan gerbang kos untukku.

Jikab aku seperti orang kesetanan ketika mengendarai motor, ah ...ini malah seperti orang kesurupan. Aku seperti tak memikirkan nyawaku sendiri ketika menyetir, yang ku pikirkan hanya bagaimana aku bisa segera tiba di Rumah Sakit. 

Pada pukul 3 pagi aku berangkat dari kos dan sebelum jam 6 aku sudah tiba di rumah sakit. Bagiku waktu yang ku habiskan sudah lumayan lama. Aku masih harus berhenti shalat, beli bensin, ambil uang di ATM, ngecek gmaps..ah pokokknya lama.

Setibanya di  Rumah Sakit, aku belum bisa ketemu Adek karena ia masih berada di ruang ICU. Peraturan di Rumah Sakit, pasien yang dirawat di ICU tidak boleh ditemui, karna takut menganggu dan takut pasien terinfeksi bakteri yang mungkin saja ditularkan oleh penjenguk. 

Tanggal 7 Maret kala itu adalah tangal merah yang artinya hari libur. Baru kali itu, aku membenci hari libur. Karena, aku tak bisa langsung mengurus kecelakaan Adek yaitu mulai dari BPJS, JASARAHARJA. Aku baru mengurus segala administrasi tersebut keesokan harinya yaitu tanggal 8 Maret.

1- Pengurusan administrasi tersebut dimulai dari mendatangi sekolah Adek untuk mengurus perizinan Adek. 

2- Lalu, aku mendatangi TKP kejadian untuk menanyakan kronologi kecelakaan kepada saksi yang berada di sekitar lokasi kecelakaan.

3- Meminta surat pengantar dari desa untuk mencetak kartu BPJS Adek.

4- Mencetak kartu BPJS ke kantor BPJS di Kepanjen.

5- Membawa motor yang digunakan Adek ke Samsat Singosari, karena batas maksimum pelaporan kecelakaan adalah 6 jam setelah  kejadian. Oleh karenanya, harus melapor ke kantor pusat.

6- Mengurus klaim asuransi kecelakaan dari JASARAHARJA.


Untuk nomor 1-3, aku masih ditemani oleh pamanku. Namun, untuk yang lainnya aku berbagi tugas dengan beliau. Nomor 4 dan 6 aku yang mengurus. Sedangkan, nomor 5 diurus oleh pamanku.

Tanggal 8 Maret 2019 bertepatan dengan hari Jum'at. Oleh karenanya, Pamanku dengan sepupuku berangkat setelah shalat Jum'at ke Samsat Singosari.

Aku langsung ke kantor BPJS selepas dari kantor desa. Seharusnya, aku sudah tidak mungkin mendapat nomor antrian karena mengingat hari sudah teramat siang. 

Namun, aku selalu percaya bahwa Tuhan selalu membersamaiku dalam setiap langkah hidupku. Alhamdulillah, bapak Satpam berbaik hati memberikan nomor antrian kepadaku setelah aku ceritakan perihal keperluan yang sangat mendesak. Aku mendapat nomor antrian yaitu nomor 297.  

Pukul 3 sore, kartu BPJS milik Adek telah aku dapatkan. Jam sudah menunjukkan jam shalat ashar, ah aku belum sempat menunaikan shalat dzuhur karena aku harus menunggui di kantor BPJS. Semoga Tuhan mengampuni kelalaianku kala itu yang menunaikan shalat dzuhur di waktu ashar.

Setelahnya, aku mendatangi kantor JASARAHARJA yang terletak di samping kantor BPJS. Alhamdulillah, lagi dan lagi Tuhan teramat baik. Surat keterangan kecelakaan dari kepolisian telah diterbitkan dan aku bisa langsung mendapatkan surat klaim dari JASARAHARJA pada hari itu juga yang bisa aku serahkan ke pihak RS pada hari senin tanggal 11 Maret 2019.

Aku diberi pesan untuk memperbanyak surat klaim asuransi tersebut. Karena, ke depannya  setiap penebusan obat, kopian dari surat klaim tersebut yang dijadikan sebagai jaminan.

Ah, aku optimis Adek kecil kami pasti sembuh. Aku  langsung men-fotokopi sebanyak 50x dong, agar aku memiliki banyak surat cadangan.

Jam di tanganku menunjukkan pukul 16.30, aih aku ketinggalan kereta sore. Ah ya sudahlah gak pa2, aku masih ada 3 tiket milik Bapak, Ibuk, dan Adek. Yang penting urusan Adek sudah kelar untuk hari senin.

Aku berangkat ke Surabaya pukul 19.26 menggunakan tiketnya Adek. Aku boarding menggunakan fotokopi Kartu Keluarga, mengingat Adekku belum memiliki KTP. 

Alhasil aku memasang wajah unyu layaknya remaja usia 16 tahun. Eh...Alhamdulillah lolos. Aku masih kelihatan unyu² mungkin ya? haha. 

Tiba di Surabaya pukul 23.00. Padahal aku harus bangun jam 3 pagi buat make up wisuda. Dibilang capek..wah sangat capek sekali tubuhku dan juga jiwaku.

Kalau ditanya, aku ngerasa nelangsa apa gak?

Banget.. 

-wisuda tanpa keluarga-


Aku sudah menyiapkan semuanya.

1- Foto studio bersama keluarga, 

2- Menyewa kamera digital untuk foto di depan tulisan UNAIR bareng keluarga,  

Nyatanya, tak ada satu pun potretku bersama keluarga di wisudaku kali ini. 

Aku tidak mungkin tega meminta Bapak dan Ibuk menemaniku, sedangkan Adekku tengah berjuang antara hidup dan mati. 

Minta ditemani Mbakku?, mbakku memiliki anak kecil usia 2 tahun. Mas Iparku  turut membantu dalam menjaga Adekku di RS. 

Tapi, hey.. jangan kasihani aku. Aku masih memilki keluarga lain dari orangtua yang berbeda ko, ACTION. "I'm Not Alone".

Lepas wisuda, aku langsung balik dari Surabaya setelah Isya' menggunakan travel sekitar pukul 9 malam dan tiba di rumah pukul 2 pagi.

Pukul 9 pagi, Aku berangkat ke RS tempat Adek dirawat. Rasanya, aku selalu dikejar oleh waktu, takut Adekku tiba-tiba udah gak ada jikalau aku tidak segera berangkat ke RS. Aku balik sore hari dari RS karena aku belum membawa perlengkapan menginap jikalau aku ingin menginap.

Motoranku seru kala itu, motoran dengan mata sesekali terpejam karena mengantuk. Jujur, ragaku sangat capek. Mobil yang melaju di jalan ku pepetin, untung masih hidup sampe sekarang hehe. 

Terus, aku balik keesokan harinya untuk mengurus administrasi Adek, pemindahan status umum - BPJS (JASARAHARJA).
Alhamdulillah lancar...

Namun, 

tidak untuk kesehatan Adekku. Tak ada kemajuan apapun sedari awal ia masuk RS. Kali pertama aku melihat wajahnya, aku sungguh tak mengenali wajahnya.


Lebam wajahnya, gundul, banyak perban yang menempel di tubuhnya, selang menancap di tubuhnya. 

Hingga suatu ketika, aku dimintai persetujuan untuk penandatanganan pemberian selang sebagai alat bantu pernafasan Adekku. 

Ah itu tak lama, selasa dipasang selang, hari jum'at ada penandatanganan yang baru untuk tindakan trakeostomi agar Adekku  bisa bernafas langsung dari tenggorokan, dan juga sebagai tempat jalannya obat.  

Namun,

Entah, bukannya semakin membaik, kondisi Adekku terus menurun.

Pernah tensi Adek menjadi 40/27 sedangkan untuk orang normal sekitar 120/80.

Badai terjadi ketika dokter mengatakan,

"Batang otak Adek mbak udah tidak berfungsi lagi. Sudah mati, sehingga dia tidak bisa merespon sama sekali ketika ada sentuhan.."


"Ketika kecelakaan sepertinya ada muntahan yang masuk ke organ paru-paru Adeknya mbak, Sehingga paru-parunya terinfeksi bakteri pneumonia"


"Bakteri pneumonianya sudah menyebar ke seluruh tubuh Adeknya mbak.."


Iya, aku yang selalu menjadi pendengar pertama dongengan dari dokter mengenai Adekku. 

Minggu malam 17 Maret, aku dipanggil untuk menemani Adekku di ICU. Ya sudah aku sendirian semalaman menemani Adek di ICU. Aku berusaha agar tetap terjaga semalaman. 

Aku sangat takut jikalau aku terlelap, Adekku tiba-tiba berhenti bernapas, ah kau tak mau. Aku selalu melihat layar monitor yang menampilkan kondisi Adekku. 

Yang namanya tensi darah, udah tidak terbaca di layar monitor. Apa yang bisa aku baca aku baca ketika menemani Adek. Mulai dari shalawat kepada Nabi, shalawat syifa, laqodja akum, entah sudah mencapai pada hitungan pada ratus ke berapa?

Surah Ar-Rahman, Yasin, apa saja aku baca dah, untuk mengusir kantuk yang menderaku.

Pagi harinya, tanggal 18 Maret 2019

"Mbak.. alat-alat yang ada di tubuh Adeknya mbak, hanya berfungsi sebagai penanda bahwa Adeknya mbak masih hidup, bukan berfungsi untuk menyembuhkan. Kita tak tahu jikalau dilepas, bisa aja Adeknya mbak sudah gak ada. Jadi, ini kami meminta persetujuan keluarga untuk pelepasan alat. Jikalau keluarga setuju, nanti keluarga sendiri yang akan melepaskan alatnya dari tubuh Adeknya mbak."


Langitku runtuh, rasanya  benar-benar runtuh.. 

Aku tidak tahu bagaimana menyampaikan pesan dokter kepada Bapak dan Ibuk di bawah. Ibuk selayaknya ibu pada umumnya, menangis

Bapak berusaha untuk tegar, beliau setuju atas saran dari dokter, "kasihan Adekmu juga.." ucap beliau.


Namun, keluarga di rumah tidak terima akan sikap Bapak. Keluarga masih optimis Adek bisa sembuh, akhirnya semua keluarga berangkat menuju RS, untuk mencegah Bapak

"Buk.. ayo ke ICU, ibuk belum ketemu Adek sama sekali. Mungkin ini bisa jadi jalan sembuh bagi adek, ayo Buk.."

Awalnya Ibuk tidak mau, tapi setelah aku dan Bapak paksa, akhirnya beliau mau untuk menemui Adek di ruang ICU.

Ajaib


Setelah ketemu Ibuk, tangan dan tubuh Adek yang semalaman ketika aku tungguin tidak bereaksi terhadap sentuhan apapun, tiba-tiba bereaksi.


Tensi darah yang semalaman tidak terbaca di layar monitor, tiba-tiba langsung naik ke arah normal, ah.. kami tiba-tiba optimis dong,


"Adek kecil kami bakalan sembuh.."


Akhirnya Adek didopping dengan banyak obat oleh dokter. Aku masih ingat, hanya selang tak sampai 1 jam, obat terus disuntikkan oleh dokter ke tubuh Adek melalui invusnya.

Namun,

Pukul 11 siang, Adek drop lagi. Denyut nadi di daerah manapum tak terdeteksi. Hanya pendeteksi paru-paru yang menandakan Adekku masih hidup. Dokter berkata kepadaku kala itu,

"Ini udah tidak merespon lagi mbak.." ucap Dokter

"Gimana ya Dok? Ibuk masih belum ikhlas .." jawabku

"Ya sudah, biarkan terjadi secara alami saja. Tidak perlu dilepas dulu alatnya"

Dan tepat pukul 13.00 siang ketika Mbakku sibuk bilang kepadaku,

"Itu lo usapin darah yang keluar dari hidungnya Adek, mintakan tisu"

Lalu dokter sibuk mengecek keadaan Adek..

"Mohon maaf ya ibuk, Dek Umi nya udah tidak ada.."


Mbakku auto jerit,  aku hanya bisa menangis, dan menenangkan 2 orang, Ibuk dan Mbak. Kami bertiga menciumi wajah Adek kecil kami, itulah kali terakhir aku bisa mencium wajahnya.

Di rumah akhirnya Ibuk cerita, kalau adek tiba-tiba berhenti berdetak ketika ibuk telah ikhlas melepasnya

"Ya udah Nik.. ibuk ikhlas melepasmu"-(Nik sebutan Nduk dalam bahasa madura)

Ah, semudah itu naza' Adekku.

Setelah mengetahui kabar Adekku, aku langsung menghubungi bapak yang ada di bawah bersama keluarga, menelpon keluarga Madura dan mengabari Mbak keduaku.

Aku tak bisa langsung pulang, aku masih harus mengurus administrasi, mengurus ambulans, visum Adekku untuk keperluan surat kematian.

Awalnya, aku cukup tegar ko. Tapi entah setelah keluar dari ambulans melihat ramainya massa yg ta'ziyah ke Adek, pemandian sudah siap. 

Aku ngerasa sepiiiiii banget hatiku, 
aku dan Mbak sepupuku yang menemani di dalam ambulans keluar dari ambulans sambil berpandangan langsung nangis. 

Gak tahu lo, aku ngerasanya.. 

aku gak bakalan bisa becanda bareng Adek lagi, 
aku gak bisa melihat senyum Adekku lagi, 
aku gak bakal bisa bully Adekku lagi, 

Iya.. semua yang berhubungan dengan Adek sudah gak bisa lagi.. iya sudah selesai.


Tapi, Alhamdulillah masih kuat ko buat mandiin, ngafani, ke makam Adek. Walaupun, aku hanya minum energen yang berduaan sama Ibuk ketika pukul 12.30 tadi di RS.

--


Aku masih sering ngerasa gini ketika rasa bersalah mulai merasukiku,

"Andai aku gak wisuda Maret ya,
"Andai aku sedikit peduli dan peka atas pesan almarhumah ..
"Andai aku segera membelikannya..

andai dan andai Adekku masih hidup aku akan belikan apapun untuknya... !!!
tapi kan Adekku udah gak ada lagi,
hum,..

Ya.. aku masih mencoba memaafkan diri sendiri. Semua sudah menjadi jalan dari-Nya. Aku hanya perlu memberikan waktu untuk bekerja, ya aku hanya perlu menerima dengan Ikhlas walau ikhlas tak semudah pengucapannya. Ya.. aku masih berusaha dan akan terus berusaha.

Tulisan ini adalah  kado ulangtahun ke-17 nya,
Ibuk sudah membuatkan nasi kuning yang selalu menjadi permintaannya ketika ultahnya tiba ketika di pondok.

Dek.. lewat tulisan ini mbak hanya mau bilang,
kalau kamu sudah berjuang. Kamu sudah mengupayakan untuk sembuh, kamu tidak berputus asa. Namun, Tuhan jauh lebih merindumu Dek, tak apa. Pergilah, mengudaralah jauh di atas sana. 

Minta pada Tuhan ya Dek, semoga Tuhan mengumpulkan kita sekeluarga di Surga-Nya kelak. 

Rindu dan akan selalu merindumu.


dari seorang kakak yang belum bisa menuntaskan kewajiban sebagai seorang kakak