"Aku sukses menjadi Perawat Nduk.."

ucapmu kala itu kepadaku.
Lalu, pikiranku kembali memutar memori peristiwa beberapa tahun lalu.

2104, Ibu memulai "profesi" barunya menjadi seorang perawat untuk bapak yang sakit. 
Hingga saat ini pun Ibu masih tetap melakoni peran barunya tersebut.


2016, aku lah yang menjadi pasien ibu selanjutnya. 
Kecelakaan yang sempat merenggut kemampuan penglihatan mata kananku hingga beberapa bulan.
Mungkin jika ibu tidak dengan telaten setiap pagi dan sore hari mengompres mata kananku, bisa jadi aku akan tetap melihat hanya dengan satu mata, mata kiriku. 

Kesehatan mentalku sempat down tat kala dokter yang menanganiku menjawab,

"ya gak tahu mbak, mata kanan mbak bisa terbuka kapan. Ada yang beberapa tahun baru bisa terbuka matanya. Soalnya lukanya di pusat saraf yang jalurnya ke mata.." 

Namun, ibu masih terus berpikir positif jika mata kananku akan segera terbuka seperti sedia kala sehingga ku tak perlu kemana-mana memakai kacamata pantai untuk menutupi mata yang masih setia menutup pasca kecelakaan.

Ajaib, pagi hari ketika makan sahur pada tanggal 22 Ramadhan 2016, mata kananku tiba-tiba terbuka sendiri. Ibu sempat kaget melihat perubahan di mata kananku,

"Gak tahu buk, matanya kebuka sendiri, padahal gak aku perintah.." jawabku pada Beliau.

Walaupun tak langsung membuka sempurna, tapi setidaknya hari raya aku tak harus pake kacamata pantai, pikirku.

Ah iya, aku masih melihat semua bayangan benda menjadi dua bagian ko.
Jangan ditanyakan bagaimana repotnya aku di awal-awal membaca buku atau mengaji dengan tulisan yang berseliweran.

Mataku masih belum bisa fokus pasca kecelakaan hingga sekarang.
Itulah salah satu alasan besar aku memakai kacamata, di samping  memang mata kananku pasca kecelakaan cukup sensitif terhadap debu.

"Pake o kacamata aja.." ucap  ibu yang hingga sekarang sangat semangat mengingatkanku ketika melepas kacamata di keramaian. Mungkin ibuk gak mau "mata kananku yang istimewa" ini diketahui oleh banyak orang.


2019, Ibu kembali akan menjalani perannya sebagai "Perawat"  lagi. 
Ibu sangat bersemangat untuk berbagi peran denganku, katanya..

"nanti kamu yang berangkat pagi buat daftarin, biar Ibu yang mengurus adekmu di rumah.."

Namun, Tuhan memiliki skenario lain atas semuanya.
Belum sempat Ibu menjalani perannya lagi, Tuhan telah rindu kepada adek kecil kami.

Ia pulang dalam artian sebenar-benarnya pulang. 



Di tanggal 22 Desember 2019 ini buk,
aku yang kini menjadi anak bungsumu hanya ingin bilang,

"Ibu tetap menjadi perawat yang sukses ko. Sekalipun Ibuk tak bisa menjadi perawat adek, Ibu tetap Perawat yang sukses, sukses merawat bapak, dan juga merawatku hingga bisa melihat dengan dua mata lagi sekarang. Biarlah Tuhan yang merawat adek sekarang, Tuhan tahu yang terbaik, Adek pasti sudah berbahagia di sana. Buk.. Khusnul sayang Ibuk.."



salam sayang dari anakmu yang cerewet ini,