Surabaya (21/09), pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu di akhir pekan mengikuti seminar kemuslimahan yang diadakan oleh divisi kemuslimahan Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) Universitas Airlangga. Tema acara ini adalah "Peran Muslimah dalam Memperjuangkan Peradaban Islam".




Ada dua pemateri yang dihadirkan oleh panitia acara. Pemateri pertama yaitu Kartini F. Astuti, seorang Selebgram dan Influencer, muslimah milenial yang cukup memiliki banyak follower di akun media sosialnya. Beliau juga merupakan penulis buku yang berjudul "Rahasia Agar Tak Mudah Dilupakan". Pada kesempatan kali ini, Beliau berkesempatan membawakan materi, "Menjadi Muslimah di Era Milenial."

Mari simak, ulasan materi seminar yang diberikan oleh Teh Kartini F. Astuti.


Seminar dibuka mengenai dipilihnya seorang wanita dalam agama Islam sebagai pasangan atau pendamping hidup karena beberapa hal, yaitu dari segi harta, nasab atau keturunan, kecantikan, dan agama. Kita sebagai seorang muslimah harus ingin atau menurut saya pribadi, "Dipilih dalam semua aspek". Bukan tumpang tindih, misal hanya segi kecantikannya saja. Ah, kecantikan itu tidaklah abadi bukan?. 

Oh ya, dari segi agamanya dong?
Emang, kalau kita dipilih dari segi agamanya saja, mau kita dibilang jelek gitu?.
Tidak, tidaklah seperti itu. Semua harus 100 %, kita dipilih ya emang kita unggul dari segala aspek. Bukankah, kita akan disandingkan sesuai dengan diri kita?

Banyak wanita yang menginginkan sosok pasangan seperti Habibie, namun lupa menjadi sosok seperti Ainun.
...وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ...
...dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik... Q.S An-Nur : 26


Lalu, di slide berikutnya muncullah sepenggal kalimat "Mematikan perempuan = Mematikan Peradaban". Perempuan adalah pencetak generasi, dari rahimnya lah akan lahir para penerus bangsa dan pejuang agama Allah di muka bumi ini. Definisi seorang "ibu" tidaklah menyempit hanya bagi seorang perempuan yang bisa melahirkan saja. Karena, pengertian dari seorang anak pun bukan hanya tentang anak dari unsur "biologis" saja. Melaikan seorang anak yang kita rawat dan didik, itu juga tanggung jawab kita sebagai ibu (red: pengajar misal).


Ada dua sosok muslimah yang sukses mendampingi Rasulullah SAW dalam perjalanan dakwah beliau. Sosok muslimah itu adalah Aisyah r.a dan Khadijah r.a. Mereka dengan banyak pesonanya, bisa kok memaksimalkan segala potensinya sebagai seorang muslimah, jadi tidak ada harus "timpang-tindih". Mana harus yang diunggulkan, ah tidak. Semua memiliki porsi yang sama.

Aisyah r.a - Diberitakan oleh Malaikat Jibril, bahwa Beliau akan menjadi istri Rasulullah SAW di dunia-akhirat. Beliau juga merupakan muslimah yang cerdas. Beliau meriwayatkan banyak sekali hadits, dan dijuluki sebagai Ummul Mukminin. Dibela kesuciannya dari langit ke tujuh saat terjadi fitnah, sehingga menjadi sebab muasal terjadinya keringanan syari'at (bisa dicari di google mengenai kisah kehilangan kalung, sehingga turunnya ayat mengenai tayammum).

Khadijah r.a - Beriman kepada Allah SWT di saat seluruh manusia kufur, percaya kepada Rasulullah SAW di saat seluruh manusia berdusta kepadanya. Beliau termasuk golongan Assabiqunal Awwalun, orang-oraislng yang pertama masuk islam. Beliau juga dengan rela membelanjakan hartanya untuk berjuang di jalan Allah SWT. Dari rahimnya lah lahir penerus keturunan nabi Muhammad SAW, di saat istr-istri Nabi tidak bisa melahirkan anak. Hal ini menandakan bahwa Beliau menjaga rahim dengan benar-benar menerapkan pola hidup sehat.  Malaikat Jibril mengirimkan salam kepada Beliau dan memberitakan bahwa Allah telah menjanjikan istana di surga yang terbuat dari mutiara yang tak ada kegaduhan dan kelelahan. Hal ini sebagai ganjaran untuk Beliau yang memiliki akhlak seperti mutiara, yang selalu menghabiskan seluruh hidupnya untuk Islam.

Lantas, apa kiat-kiat yang harus kita miliki agar dapat menjadi "Muslimah yang Unggul di Era Milineal" ini ?. Wait, simak ulasan singkat di bawah ini,

-Agama (Al-Qur'an & As-Sunnah) : Muslimah identik dengan wanita yang beragama islam. Oleh karena itu, sebagai muslimah yang baik sudah seyogyanya diri kita harus berpedoman kepada pedoman agama kita yaitu, Al-Qur'an & As-Sunnah.

-Karir (Skill & Bakat) : Tekunilah bakat dan kemampuan yang kita miliki. Jadikan hal tersebut sebagai jalan dakwah atau jalan kita untuk bermanfaat kepada sekitar kita. Bukankah manusia yang terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain?. Marilah menebar manfaat di ranah kita masing-masing. 

-Pola Hidup Sehat (Outer Beauty) : Bukankah Muslim yang kuat lebih Allah cintai daripada Muslim yang lemah?. Bagaimana kita akan "bermanfaat", jikalau tubuh atau badan kita saja tidak sehat atau performa kita tidak optimal. Bukankah menjaga pola hidup sehat merupakan salah satu bentuk wujud rasa syukur kita akan nikmat yang Allah berikan pada kita?, 

-Akhlaq (Rasa Hormat, Inner Beauty) : Kita tidak bisa menghindari bahwa wajah Islam diwakili akan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Secerdas, secantik apapun kita jikalau akhlaq atau perilaku minus, ah kiranya "pesan-pesan" Tuhan akan sulit tersampaikan. Bukankah kita akan mendapat perlakuan dari seseorang sebanding perlakuan kita terhadap orang lain?

Begitulah ulasan singkat mengenai review seminar di bagian pertama. 
Kesimpulan yang didapat adalah bahwa kita harus memaksimalkan semua potensi yang ada pada diri kita wahai muslimah. Semua harus 100%, ya ibadahnya, ya sedekahnya, ya belajarnya, ya ngajinya, all of part must 100% not a half, a quater.

Semangat sist --
Ingatlah pesan ini,

"Tidak ada hasil yang akan meghianati usaha"
atau
"Tidak ada usaha yang sia-sia"

created by : Khusnul