Halo.. akhirnya aku  ngeblog lagi setelah sekian lama. Selama setahun ini blog aku macam kuburan, terakhir kali ngepost tahun 2018, hehe. Kalau disangka aku malas nulis, oh tidak. Aku masih sering nulis ko, di status whatsapp, story instagram, thread di twitter, feed instagram, atau bahkan meramaikan di komenan orang, hihi. Hiya, bagiku menulis bisa dimana saja sih, tak harus terikat, di kertas tisu pun aku pernah menulis sepenggal puisi ko. Kalau katanya temen aku sih, 

"Khusnul mah memindahkan blog ke IG.."--lah iya sih, caption di IG aku itu  bisa sampe di kolom komentar juga saking panjangnya, itupun biasanya udah aku reduksi berkali-kali tulisannya. Tetep aja, IG tidak bisa menampung caption IG ku yang kadang aku bikin jauh sebelum foto itu di take. Mottoku,

"Bikin caption dulu aja, foto mah belakangan.."-- Haha, Khusnul dengan segala kerandomannya harap dimaklumi.

Eits..intronya selalu kepanjangan, mau nulis apa, jadinya apa, halah Nul..
Oke, kembali ke judul : "RECEH" DREAM : Juara Kelas ingin "Naik ke atas Pentas & dapat Hadiah Buku" #part1. Yups, kali ini aku ingin flashback kisah perjalanan hidupku akan impian-impianku yang ternyata asal-muasalnya terkesan "RECEH" dan cukup menggelitik sih kalau di ingat-ingat,

"Tuhan..sebegitu recehnya pemikiranku ya, kok bisa ya aku berpikiran seperti itu?. Ini kenapa ya? apakah aku perlu tukar tambah otak biar agak bener dikit kalau mikir. Eh jangan deh Tuhan, entar aku gak jadi wanita langka lagi deh, Wanita 0.8 % di dunia, Wanita berkepribadian Arsitek a.k.a INTJ-A / INTJ-T, hihi".

Oke.. let's read..

Aku masih ingat kala itu tahun 2004, ketika kenaikan kelas 2 Madrasah Ibtida'iyah, yang merupakan titik balik dari langkahku menggapai mimpiku.

Madrasah Ibtida'iyah merupakan sekolah tingkat dasar di lingkungan yayasan Islam. Aku anak desa yang  nun jauh di pelosok kabupaten Malang. Rumahku itu jaraknya 22 km dari Kota Malang dan 35 km dari deretan pantai selatan. Nah kebayang gak sih, ke kota jauh dan ke pantai juga jauh.

Alhasil selama 22 tahun usiaku, baru sekali mengunjungi pantai di tanah kelahiranku sendiri, haish. Ke kota Malang, wah 22 km cuy... males aja harus oper-oper angkot berkali-kali. Intinya, aku adalah anak Malang yang tidak tahu menahu kota Malang, baik kota ataupun kabupaten. Mau minta anter main ke aku ya harus siap sedia Gmaps, mana pernah aku bisa menghapal jalan, haha.

Seperti itulah kondisi letak rumahku, dan hal itupun juga berimbas pada tempat aku menimba ilmu. Sekolahku adalah sekolah pinggiran, tapi ya gak pinggirann amat sih. Atap sekolah enggak bocor ko, lantai ya Alhamdulillah pake ubin. Papan tulis, masih pake kapur. Kiranya tahun 2004 masih lumrah deh ya, papan tulis pake kapur.

Aku menimba ilmu di Madrasah Ibtida'iyah Ulum 01 yang terletak di desa seberang, yaitu Brongkal. Sedangkan rumahku berada di desa Kanigoro. Deket ko, aku tiap hari ke sekolah dengan jalan kaki juga, hanya beberapa ratus meter aja deh kayaknya.

Kala itu, malam kenaikan kelas dan juga malam perpisahan untuk siswa-siswi kelas 6. Sudah menjadi tradisi di lingkungan tempat tinggalku, jikalau malam kelulusan atau malam perpisahan akan diadakan pentas seni, disamping acara utamanya adala pelepasan wisudawan kelas 6.

Biasanya juga malam perpisahan tersebut juga diselingi dengan pengumuman siapa saja siswa kelas 1-6 yang memperoleh peringkat 1, 2, dan 3. Ah iya, dulu pendidikan di Indonesia masih memakai sistem peringkat. Siapa yang menduduki jajaran peringkat 1, 2, dan 3, maka mereka lah siswa-siswa terbaik pada kala itu yang bisa mengalahkan teman-temannya dalam hal akademik, raport.

Aku kala itu masih berumur 7 tahun. Aku lulus dari Taman Kanak-kanak usia 5 tahun, setahun lebih cepat dibandingkan teman-teman sebayaku. Ah bukannya aku pintar ataupun terlahir sebagai anak cerdas yang bisa meringkas waktu belajar usia Taman Kanak-kanak yang biasanya 2 tahun, aku ringkas menjadi 1 tahun.

Di catatan raport Taman Kanak-kanakku masih banyak catatan merah dari guruku. Bahkan nih ya, pada kelas 1 Madrasah Ibtida'iyah (MI) aku menduduki peringkat 27 dari 30 anak, HAHAHAHA. Kadang aku tertawa melihatnya, ternyata aku pernah mendapat peringkat sebanyak itu ya dulu,.

Namun, semua itu berubah kala malam kenaikan kelas 2 ke kelas 3 pada tahun 2004. Aku melihat teman-temanku dan kakak kelasku yang mendapat peringkat 1,2, dan 3 naik ke atas pentas mendapat hadiah buku.

Tau gak sih, saking Recehnya pemikiranku kala itu, aku nyeletuk gini di dalam hati..

"Tahun depan aku mau kek mereka deh, mau naik ke atas pentas. Aku mau dapat hadiah buku, biar bisa nyicil buku buat ajaran baru.."

Mari tertawa bersama akan pemikiran recehku kala itu, HAHAHAHA.

Jangan harap aku akan menjadi siswa rajin yang selalu belajar selepas pulang sekolah karena memiliki "impian receh" seperti itu. Oh ya tidak, aku masih seperti anak kecil susiaku kebanyakan. Main bekel, main gobak sodor, main di  barongan, main di kali, pokoknya permainan anak desa tahun 2000.an lah.

Lalu, kapan aku berusaha merealisasikan "impian receh" tersebut ?. Pada waktu MI aku masih menggunakan belajar SKS Sistem Kebut Semalam. Namun, aku selalu memperhatikan dengan betul apa yang dijelaskan oleh guruku di kelas, aku tidak akan pulang dengan tangan kosong. Pokoknya, pas keluar kelas aku udah benar-benar memahami betul apa yang telah dijelaskan oleh guruku.

Pada waktu ujian, aku yah seperti biasa. Ngerjain sebisaku dan no contekan. Maap, aku sudah didoktrin sejak kecil oleh ibuku,

"Kamu jangan pernah nyontekin ke temenmu lo ya, itu curang namanya, Gak boleh."

Hiya, aku sedari kecil sudah didoktrin seperti itu. Jadi, untuk teman-temanku yang mungkin kaget dengan prinsipku, percayalah, aku hanya menjalankan titah dari Ibu Ratu. Jadi, bukan aku tak mau  membantu kalian, aku akan dengan senang hati membantu dengan mengajari kalian ko. Namun, untuk berbagi jawaban atau bekerja sama ketika ujian, mohon maaf itu melanggar titah Ibu Ratu. Tapi lucu sih, gegara saking straight nya aku menjalankan perintah ibu. Aku baru tahu dari temanku semasa MTs yang se-SMA sama aku, jikalau waktu MTs aku dijuluki "Si Pintar Yang Pelit Jawaban", HAHAHA.

Waktu pembagian raport semester 1 di kelas 3, aku  mendapat peringkat 3. WOW, dari anak yang tidak pernah menduduki 5 besar ataupun 10 besar, langsung terjun payung ke peringkat 3. Dari 12 ke 3, lumayan sih.

Semester 2 masih sama sih, masih peringkat 3. Kiranya aku perlu lebih keras dalam belajar SKS nya biar bisa ganti peringkat selain 3 di raport kelas 4 ku kelak.

Aku masih ingat kala itu, bapak berjanji kepadaku..

"Kalau kamu bisa peringkat 1, nanti bapak belikan sepeda."

Wohhh.. aku semangat dong ya. Aku yang belum memiliki sepeda, jelas ingin memiliki sepeda layaknya teman-teman seusiaku. Aku jadi termotivasi untuk lebih giat lagi belajarnya dan berambis bisa jadi  juara 1.

Kala itu pelajaran matematika diajarkan oleh guruku yang bernama pak Su'udi. Aku suka sistem pengajaran beliau, siapa yang bisa cepat, maka ia akan terus mendapat hal yang lebih. Aku masih ingat kala itu, selalu menjadi deretan pertama yang menyelesaikan soal-soal dari beliau ketika teman-teman lain mungkin masih di soal 1, aku mungkin sudah di soal 5.

Lagi, pemikiran "recehku" yang berkuasa. Motivasiku agar lekas dan cepat menyelesaikan soal-soal dari beliau adalah "BIAR BISA SEGERA ISTIRAHAT, BIAR BISA MAKAN DI RUMAH. BIAR BISA PUNYA WAKTU LEBIH BUAT NONTON KARTUN DI TIVI", HAHAHA.

Dengan kemampuan matematiku, aku optimis dong ya bisa menjadi juara 1. Aku pun tak sadar bicara gini ke temenku

"Aku mau ngalahin dia ah, aku bisa ko peringkat 1..." ucapku

"Gak usah mimpi ketinggian deh Nul. Kamu tahu dia kan?, dia selalu juara 1 sejak kita kelas 1 MI. Kamu juga tahu latar belakang keluarganya, ayahnya guru pegawai negeri." jawab temanku.

Aku gak merasa diremehkan ko kala itu. Tapi, mungkin "anak kecil" dalam diriku kali ya yang merasa diremehkan sama jawabannya, hahaha.

Ah, aku masih ingat cerita dari kakak kelasku kala itu. Pada waktu itu, malam perpisahan hanya diadakan di aula sekolah kami yang didapat dari ruangan kelas yang digabung.

Dalam sejarah pendidikan di MI Azharul Ulum 1, anak desa dari Kanigoro bisa lo menjadi juara kelas. Konon katanya, sedari dulu jajaran peringkat hanya bisa diduduki oleh anak-anak dari desa Brongkal. Bukan karena diskriminasi sih, kalau aku melihatnya dari background pendidikan keluarga.

Maklum bos, anak-anak dari desa Brongkal banyak dari keluarga guru. Entah ayah, ibu atau saudara lah. Setidaknya masih ada seseorang yang bisa ditanyai ketika ada pelajaran yang tidak dimengerti.

Lah, kalau dari desa Kanigoro, kebanyakan keluarga kami bekerja menjadi buruh. Bisa dibilang tingkat pendidikan keluarga atau bahkan orang tua sangatlah rendah. Gak usah jauh-jauh deh, bapak dan ibuku saja hanya tamatan SD. Kalau mau ku tanyai masalah pelajaran, ya udah angkat tangan duluan. Oleh karena itu, aku harus sebisa mungkin selalu pulang ke rumah tanpa membawa beban "KETIDAK MENGERTIAN" akan materi sekolah. Tidak ada yang bisa ku tanyai, haruslah aku sendiri yang berusaha mencari jawaban itu sendiri.

Kala itu, hanya bapaklah yang hadir untuk mengambil raport, karena undangan hanya diperuntukkan kepada wali siswa saja. Kala pembacaan peringkat 2 yang dipanggil adalah temanku yang selalu mendapat peringkat 1 sejak kelas 1 MI, semua orang-orang pada bingung.

"Siapa ya yang jadi peringkat 1?.."

"Wow... siapa gerangan yang akhirnya bisa mengalahkan juara bertahan sejak kelas 1 ini.."

Dan tiba ketika namaku dipanggil sebagai siswa yang memperoleh peringkat 1 di kelas 4, semua tercengang. Bisa ya, anak Kanigoro jadi peringkat 1?. Bisa ya anak seorang buruh ngalahin anak guru pegawai negeri?

Semua seperti masih terlihat IMPOSSIBLE. Iya sih, pada waktu masuk sekolah pun, teman-teman masih terheran-heran denganku.

Tapi.. aku tuh sedih sih, yang memimpikan naik pentas itu kan aku ya? Yang ingin dapat hadiah buku itu aku kan ya? Ini kenapa bapakku yang mendapatkan semua impianku, hue.

Aku peringkat 1 dong, jadi...yeay, aku dapat hadiah Sepeda dong dari bapak lewat uang arisan yang diikuti oleh ibu, hehe. Gpp bekas, yang penting manfaatnya. Iya eh.. berkah banget sepertinya sepeda tersebut, sampe sekarang masih ada di rumah lo, di pakai sama ibu yang enggak bisa nyetir motor, haha.


Itulah kisah awal mula kenapa aku bisa menjadi seperti sekarang. 1 pesan yang selalu aku ingat dari bapak adalah,

"Jadilah orang yang Rajin Nduk. Aku punya kisah waktu bapak mondok dulu di Buduran, ada temennya bapak yang ia itu sangatlah tidak bisa, sukar sekali menerima penjelasan dari Kyai. Tapi, ia sangat rajin belajar, kala orang-orang tidur, ia masih belajar. Pokoknya dia selalu belajar di luar batas. Orang Pintar bakalan kalah sama orang  Rajin, ini terjadi pada temen bapak di pondok. Akhirnya ia yang menjadi juara di pondok mengalahkan orang terpintar di pondok." -ucap Bapak sedari aku kecil.

Dan hebatnya, pesan itu lah yang diingat oleh guru bahasa inggrisku  pas kelas 3 SMA. Beliau tetiba bertutur begini ketika kala itu aku berkunjung ke SMA,

"Aku masih ingat ucapanmu lo Khusnul, Orang Pintar, bisa dikalahkan sama Orang Rajin."-Ucap Pak Athok.

Kala itu juga ada Pak Kusnin, guru PKN yang selalu menjadi lawan debatku ketika bahas soal-soal PKN kelas 2 dan 3 SMA di kelas,

"Nduk, tak pek mantu gelem ta kowe?"(translated : nduk, kamu tak jadikan menantu mau ndak?) - ucapnya

"Mungguhno aku duwe anak lanang, tak pek mantu kowe nduk.." (translated : kalau semisal aku punya anak laki-laki, kamu tak jadikan menantu nduk) sambung pak Athok.

Aku hanya berusaha menimpali lawakan guru-guru SMA dengan senyuman, serasa jadi ajang perebutan bapak-bapak untuk anak lelakinya. Pak, yang mau nikah kan anaknya bapak? kok bapak yang sibuk nyariin? helah,

Berangkat dari pemikiran recehku itu, Juara Kelas ingin "Naik ke atas Pentas & dapat Hadiah Buku". Alhamdulillah summa Alhamdulillah, aku selalu bisa menjadi jejeran siswa lulusan terbaik sekolah sepanjang  aku menimba ilmu di pendidikan SD, MTs dan SMA.
  1. NUN (Nilai Ujian Nasional) tertinggi di Madrasah Ibtida'iyah Ulum 01.
    Yah walaupun NUN ku hanya 24.25, setidaknya itu yang mengantarkanku sekolah di Madrasah  Tsanawiyah favorit di kecamatanku, MTs Negeri 3 Malang atau sekarang bernama MTs Negeri 1 Kab. Malang . Awalnya aku hanya ingin sekolah di MTs di yayasan yang sama, namun kepala sekolahku menyayangkan jika lulusan terbaik sekolah tidak melanjutkan ke sekolah favorit. Menjadi tradisi, jikalau lulusan terbaik MI akan melanjutkan sekolah di sana. Lantas dengan NUN aku bisa masuk sekolah favorit gitu?. Oh tidak, aku ikut tes masuk sekolah ko. Dengan keadaan buku yang sudah aku kilokan, biar bisa membantu mengepulnya asap di dapur rumah. Aku ya hanya berbekal ingatan waktu Ujian Nasional MI dulu. Alhamdulillah bisa lolos, diantara keenam temanku yang mencoba mendaftar di MTs Negeri 3 Malang namun tidak lolos.
  2. Peringkat 3 paralel kelas 9 MTs Negeri 3 Malang lulusan 2010/2011
    Ah..akhirnya aku bisa naik pentas dan bisa dapat hadiah sendiri haha. Yah walaupun bukan buku sih, tapi piala sama uang beberapa ratus ribu. Tapi, gpp..dengan uang itu akhirnya aku bisa memiliki hape sendiri. Dalam sejarah perhapeanku, Alhamdulillah selalu ada uang beasiswa yang turut andil dalam berlangsungnya hapeku, haha. Iya, jujur ini hingga aku kuliah pun, hapeku aku beli dari uang beasiswa. Gak peduli kamera atau fiturnya sih, yang penting manfaatnya aja kalau aku. Ah iya, pada waktu ini bapakku juga naik ke atas pentas loh waktu pemanggilan juara lomba mata pelajaran IPA. Lagi, semua orang tercengang "Anak tukang ojek bisa lo jadi lulusan terbaik sekolah ternama."
  3. Peringkat 3 paralel IPA kelas 12 SMA N 1 Gondanglegi lulusan 2013/2014

    Dari arah kiri,
    Khusnul Khotimah         -Fisika UNAIR 2014               : Peringkat paralel 3 IPA
    Dairul Fuhron                 - Statistika IPB  2014              : Peringkat paralel 2 IPA
    (Alm). Aris Maya Putra  - Teknologi Pangan IPB 2014 : Peringkat paralel 1 IPA
    Sintia Farach Dhiba        - Akuntansi UB 2014              : Peringkat paralel 1 IPS

    Perkenalkan gang kami adalah "Gang Star"-kumpulan para bintang katanya Sintia sih. Entah bintang apa an, haha. Btw, aku waktu kelas 2 SMA peringkat 1 paralel terus lo. Namun di akhir SMA, aku kalah sama temen mata coklatku yang mantan ketua rohis ini. Weh.. do'amu manjur ya ris?..ah, kangen kamu.
    Namun di lulusan kali ini, bapak tak bisa mendampingiku. Ah tak apa, bukankah wisuda hanyalah ceremonial belaka bukan?

  4. DITOLAK 2X sama kampus IMPIAN : SNMPTN & SBMPTN

    GAGAL SNMPTN bikin lu Stress gak Nul? Enggak, bagiku kala itu "Tuhan selalu punya cara dan hadiah terbaik ko untuk hamba-Nya."

  5. GAGAL PMDKPN karena tidak dapat beasiswa.


    Lu Nul, udah dapat tempat kuliah negeri pula, ditolak? Gak bersyukur lu.
    Mon maap, anda yang mau membiayai kuliah saya selama 4 tahun? kalau iya, ya gpp sih. Aku bisa jadi anak Teknik kala itu, haha

  6. SBMPTN pilihan ketiga

    Kiranya ini jawaban do'a-do'a ibuk,
    "Aku lo nduk hanya mendoakanmu kuliah kalau gak di Surabaya ya di Malang.."
    Ibu ratu emang terbaik....terus ngapain aku dibolehin berangkat ke Jember buat daftar ulang kala itu, haish. Tapi, benar lagi dan lagi benar, Tuhan tak pernah salah dalam menempatkan hamba-Nya dalam keadaan manapun. Lewat SBMPTN ini, aku bisa mendapat 3 beasiswa selama kuliah. BIDIKMISI 2014 yang membiayai perkuliahanku dan memberi uang saku selama kuliah, hingga aku tak perlu lagi meminta kepada orang tua. BEASTUDI ETOS 2014 sebagai tempat bernaungku selama 3 tahun, ah bukan hanya tempat tinggal. Kepribadianku dan soft skillku banyak terlatih di sini. BEASISWA CENDEKIA BAZNAS 2018, ah lagi dan lagi Tuhan sungguh baik. Sekalipun aku harus menambah semester akibat cuti kuliah pasca kecelakaan, aku masih bisa membiayai kuliahku lewat beasiswa. Ah bahkan, Laptop sebagai penunjang skripsiku dibeli dari 2/3 dari uang beasiswa ini. Yah benar.. Allah itu Maha Baik, dengan Sebaik-baik skenario yang Ia siapkan untuk kita.


    Khusnul sekarang ngapain?
    masih sibuk merajut mimpi, mungkin lagi dan lagi dengan mimpi-mimpi recehku lagi, hihi.
    Mohon doanya ya,,

    created by : Si tukang "pemimpi receh", Khusnul Khotimah, S.Si (ihir sekarang nama aku udah pake gelar dong ya :D)